Politik dan Dakwah

Pada dasarnya kami setuju bahwa esensi propaganda adalah untuk mendorong orang-orang untuk masuk ke perangkat sistem Islam ilahi, dan akan berujung pada kesadaran inti monoteisme.

Pemberitaan kata berasal dari akar kata yad’u daa’a-dakwah, yang berarti mengundang-mengundang-undangan, sehingga ada gambaran yang jelas, apa metode propaganda kerajaan, yang mengundang. Gerakan misionaris dapat melewati jalan struktural maupun kultural, seperti konteks biasa bagi orang-orang yang menjadi klaim propaganda.

Yang pertama dari jalurnya, adalah metode propaganda dilakukan melalui politik, propaganda dalam perjuangan politik memiliki risiko yang sangat besar, karena tanah ditempatkan oleh aktivis dari propaganda adalah kekuatan lingkaran, bisa memiliki efek yang cukup pada kekuatan libido di setiap saat dapat meracuni visi propaganda.

Kemudian garis budaya kedua, adalah metode propaganda yang dilakukan oleh berbagai teknik yang dapat melalui perdagangan, pernikahan, pendidikan, pidato, dll path Budaya adalah akar dari propaganda itu sendiri, yang pada gilirannya terhubung saat akar yang kuat sehingga manuver berikutnya propaganda dapat memasuki arena politik. Dengan demikian, berkhotbah yang ideal harus memperkuat basis dasar (akar rumput) di muka, dan terus dilakukan secara berkelanjutan sampai tingkat kematangan di daerah aktivis propaganda budaya untuk memenuhi hari ke hari di ranah masukan politik praktis.

* Khotbah dan kebijakan praktis *

Ketika propaganda telah memasuki ranah politik praktis, yang tentunya mengambil medan yang sangat curam karena mereka bersinggungan dengan kendala yang dapat menyebabkan pengkhotbah telah melupakan misinya untuk berkhotbah. Kebutuhan seseorang yang kuat dan mampu menghadapi segala resiko yang akan ditimbulkan ketika propaganda kita memasuki ranah politik praktis.

Oleh karena itu, harus diingat oleh semua yang masuk Duni politik praktis sebagai sarana membawa misi untuk mendakwahkan Islam tidak lepas dari intimidasi dari orang-orang yang tidak suka menjadi misi untuk mendakwahkan Islam.

Jika kita ingin berhasil dalam siaran propaganda Islam, kita bisa belajar sejarah keberhasilan Nabi Muhammad. Ia berhasil mengatur kehidupan baru hanya dalam 23 tahun. Sebuah presatsi brilian di mana ia bisa menyatukan suku-suku Arab yang bertentangan satu sama lain dan pada akhir ketika kekuasaan Islam terus merayap ke Spanyol.

Keberhasilan Nabi Muhammad SWT., Untuk menyatukan suku-suku Arab di obligasi di mana Kekaisaran Persia dan Romawi Timur sama sekali tidak siap untuk peristiwa besar yang terjadi setelah merger. Antara tahun 634 dan 656, tentara Arab berhasil menghancurkan dan membagi dua negara adidaya. Jantung Eurasia-Palestina, Suriah, Irak, Mesir, Persia dan Oxus jatuh ke tangan mereka. Lima puluh tahun kemudian, mereka telah mencapai Atlantik dan Indus. (Antony hitam. 2006. p 35)
Kebutuhan untuk Unity

Di Partai Demokrat berikutnya, di Indonesia dengan penduduk mayoritas Muslim, dapat dibayangkan mendominasi suara dalam pemilihan umum. Tapi itu tidak muncul untuk menjadi kenyataan, karena jumlah partai berbasis Islam bahwa mereka berdua ingin menjadi pemenang. Hal ini terus menimbulkan kontroversi antara pihak berdasarkan Islam, dan akhirnya orang menjadi korban. Orang menjadi terbagi dan berada pada kerugian di mana pilihan, sebagai prinsip yang sama Islam. Mereka berada di wilayah skeptis tentang partai Islam yang ingin memilih. Bukan tidak mungkin, pada akhirnya, Muslim yang tidak memilih partai politik berbasis Islam.

Misi dakwah Islam, jika diatur dengan benar, juga memasuki ranah politik, dapat dicapai dengan hasil yang baik sampai kehilangan orentasi utama. Dalam bahasa kebijakan yang dikenal dengan istilah topdown dan bottom-up, kedua istilah ini digunakan dalam hal perumusan kebijakan atau keputusan. Demikian pula, propaganda, model sering digunakan dalam keputusan top-down yang dikeluarkan syura, yang merupakan kebijakan di atas (Dewan Syura) akan diikuti oleh persegi di bawah.

Dakwah Politik

Sementara model bottom-up digunakan untuk mengukur aspirasi pertumbuhan sesuai dengan yang, pada gilirannya, dirumuskan dalam kepentingan Dewan syura syura. Dengan demikian, panggilan akan terus jika rumor dasar terus menerima perhatian, dan yang paling penting adalah rumor yang beredar dalam propaganda yang sama.

Jadi, aspirasi akan fokus jika suara Muslim difokuskan pada sasaran yang tepat jika wadah yang akan menampung aspirasi masyarakat yang tidak terbagi, sehingga umat Islam tidak harus bingung lagi disebut flare. Yang pada gilirannya top-down dan bottom-up akan dimasukkan ke dalam ‘saat’ dalam arti yang berjalan dalam satu arah, yaitu, antara Dewan Syura dan menengah kadernya.Wallahu a’lam bis showab-.

Baca : Berita PKS

Be the first to comment on "Politik dan Dakwah"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*